{"id":196,"date":"2015-12-16T08:43:03","date_gmt":"2015-12-16T08:43:03","guid":{"rendered":"http:\/\/lsik.umri.ac.id\/?page_id=196"},"modified":"2015-12-19T10:20:03","modified_gmt":"2015-12-19T10:20:03","slug":"metodologi-ijtihad-istinbath-muhammadiyah","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/?page_id=196","title":{"rendered":"Metodologi Ijtihad &#038; Istinbath Muhammadiyah"},"content":{"rendered":"<p>Berikut beberapa pokok metode ijtihad dan <em>istinbath <\/em>Muhammadiyah :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify;\">Di dalam ber-<em>istidlal, <\/em>dasar utamanya adalah al-Qur`an dan <em>al-Sunnah al-Shah\u00eehah<\/em>. <em>Ijtihad<\/em> dan <em>istinbath<\/em> atas dasar <em>illah<\/em> terhadap hal-hal yang tidak terdapat di dalam nash, dapat dilakukan. Sepanjang tidak menyangkut bidang <em>ta\u2019abbudi, <\/em>dan memang merupakan hal yang diajarkan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dengan perkataan lain, Majelis Tarjih menerima <em>ijtihad, <\/em>termasuk <em>qiyas, <\/em>sebagai cara dalam menetapkan hukum yang tidak ada <em>nash-<\/em>nya secara langsung.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dalam memutuskan sesuatu keputusan, dilakuakan dengan cara musyawarah. Dalam menetapkan masalah <em>ijtihad <\/em>, digunakan sistem <em>ijtihad jama\u2019iy.<\/em> Dengan demikian pendapat perorangan dari anggota majelis, tidak dapat dipandang kuat.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Tidak mengikatkan diri kepada suatu madzhab, tetapi pendapat-pendapat madzhab, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum. Sepanjang sesuai dengan jiwa al-Qur`an dan al-Sunnah, atau dasar-dasar lain yang dipandang kuat.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Berprinsip terbuka dan toleran, dan tidak beranggapan bahwa hanya Majelis Tarjih yang paling benar. Keputusan diambil atas dasar landasan dalil-dalil yang dipandang paling kuat, yang didapat ketika keputusan diambil. Dan koreksi dari siapa pun akan diterima. Sepanjang dapat diberikan dalil-dalil lain yang lebih kuat. Dengan demikian, Majelis Tarjih dimungkinkan mengubah keputusan yang pernah ditetapkan.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Di dalam masalah aqidah (<em>tawh\u00eed<\/em>), hanya dipergunakan dalil-dalil <em>mutawatir.<\/em><\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Tidak menolak <em>ijma\u2019 <\/em>sahabat, sebagai dasar sesuatu keputusan.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Terhadap dalil-dalil yang nampak mengandung <em>ta\u2019arudh, <\/em>digunakan cara: <em>al-jam\u2019u wa al-tawfiq.<\/em> Dan kalau tidak dapat, baru dilakukan <em>tarjih<\/em>.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Menggunakan asas \u201c<em>saddu al-dzara\u2019i<\/em>\u201d untuk menghindari terjadinya fitnah dan <em>mafsadah<\/em>.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Men-<em>ta\u2019lil <\/em>dapat dipergunakan untuk memahami kandungan dalil-dalil al-Qur`an dan al-Sunnah, sepanjang sesuai dengan tujuan syari&#8217;ah. Adapun qaidah \u201c<em>al-Hukmu yad\u00fbru ma\u2019a illatihi wuj\u00fbdan wa \u2018adaman<\/em>\u201d dalam hal-hal tertentu, dapat berlaku.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Penggunaan dalil-dalil untuk menetapkan sesuatu hukum, dilakukan dengan cara komprehensif, utuh dan bulat. Tidak terpisah.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dalil-dalil umum al-Qur`an dapat di-<em>takhsis <\/em>dengan hadits Ahad, kecuali dalam bidang Aqidah.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dalam mengamalkan agama Islam, menggunakan prinsip \u201c<em>al-taysir<\/em>\u201d.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dalam bidang Ibadah yang diperoleh ketentuan-ketentuannya dari al-Qur`an dan al-Sunnah, pemahamannya dapat dengan menggunakan akal, sepanjang diketahui latar belakang dan tujuannya. Meskipun harus diakui, bahwa akal bersifat <em>nisbi, <\/em>sehingga prinsip mendahulukan <em> nash <\/em>daripada akal memiliki kelenturan dalam menghadapi perubahan situasi dan kondisi.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dalam hal-hal yang termasuk <em>al-Um\u00fbru al-Dunyawiyah <\/em>yang tidak termasuk tugas para nabi, penggunaan akal sangat diperlukan, demi kemashlahatan umat.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Untuk memahami <em>nash <\/em>yang <em>musytarak, <\/em>faham sahabat dapat diterima.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dalam memahami <em>nash, <\/em>makna <em>zhahir <\/em>didahulukan dari <em>ta\u2019wil <\/em>dalam bidang Aqidah. Dan <em>ta\u2019wil <\/em>sahabat dalam hal itu, tidak harus diterima.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berikut beberapa pokok metode ijtihad dan istinbath Muhammadiyah : Di dalam ber-istidlal, dasar utamanya adalah<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"parent":74,"menu_order":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-196","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/196","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=196"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/196\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":206,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/196\/revisions\/206"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/74"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=196"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}