{"id":20,"date":"2015-11-20T03:22:54","date_gmt":"2015-11-20T03:22:54","guid":{"rendered":"http:\/\/lsik.umri.ac.id\/?p=20"},"modified":"2015-11-20T03:24:01","modified_gmt":"2015-11-20T03:24:01","slug":"ilmu-mushthalah-al-hadits-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/?p=20","title":{"rendered":"Ilmu Mushthalah al-Hadits 1"},"content":{"rendered":"<p><strong>Daftar Isi<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Beberapa definisi dalam ilmu mushthalah hadits<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Pembagian Hadits Menurut Jalan Periwayatannya yang sampai kepada kita<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Pembagian khabar ditinjau kepada orang yang disandarkan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Beberapa definisi dalam ilmu mushthalah hadits<\/strong><br \/>\n<strong>Mushthalahul Hadits<\/strong> adalah :<br \/>\n<em>ilmu tentang dasar dan kaidah untuk mengetahui keadaan seorang perawi dan yang diriwayatkannya dari segi diterima dan ditolaknya.<\/em><\/p>\n<p><strong>Objeknya<\/strong> adalah sanad dan matan dari segi diterima dan ditolaknya.<\/p>\n<p><strong>Faidahnya <\/strong><br \/>\n<em>Membedakan antara hadits-hadits yang shahih dengan hadits-hadits yang sakit (cacat).<\/em><\/p>\n<p><strong>Al Hadits<\/strong> ialah<br \/>\n<em>Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam baik berupa perkataan atau perbuatan atau taqrir atau sifat<br \/>\n<\/em><br \/>\n<strong>Al Khabar<\/strong> ialah<br \/>\nPengertiannya sama dengan Al Hadits, dengan demikian ia didefinisikan sama seperti al Hadits. ada juga yang berpendapat <strong>Al Khabar<\/strong> sebagai berikut :<\/p>\n<p><em>Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam atau yang selainnya. Dengan demikian pengertiannya lebih umum dan luas.<\/em><\/p>\n<p><strong>Al Atsar,<\/strong> ialah<br \/>\n<em>Suatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabi\u2019in (generasi setelah sahabat). <\/em><\/p>\n<p>Terkadang Al Atsar dimaksudkan dengan sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam (hadits) apabila dalam satu kalimat ia disertakan kata Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam seperti perkataan : Dan dalam Atsar dari Nabishallallahu \u2018alaihi wa sallam (hadits Nabi).<\/p>\n<p><strong>Hadits Qudsi<\/strong> ialah:<br \/>\n<em>Hadits yang diriwayatkan Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam dari Rabbnya (Allah Subhaanahu wa Ta\u2019ala).<br \/>\nHadits Qudsi dinamakan juga Hadits Rabbani dan Hadits Ilaahi<\/em><\/p>\n<p>Kedudukan Hadits Qudsi diantara Al Qur\u2019an dan Hadits Nabawi, tidaklah sama karena Al Qur\u2019an disandarkan kepada Allah Ta\u2019ala baik lafadz dan maknanya. Sedangkan Hadits Nabawi disandarkan kepada Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam baik lafadz dan ma\u2019nanya dan Al Hadits Al Qudsi disandarkan kepada Allah Ta\u2019ala secara ma\u2019na tidak secara lafadznya dan karena itu tidak bernilai ibadah didalam membaca lafadznya dan tidak boleh dibaca didalam sholat, dan tidak dinukil secara mutawattir (keseluruhannya) sebagaimana penukilan Al Qur\u2019an, akan tetapi sebagiannya ada yang shahih, dhaif, dan maudhu.<\/p>\n<p><strong>Sanad<\/strong> adalah : suatu jalan yang menyampaikan kepada matan atau suatu perantara yang menyampaikan kepada rawi Hadist.<\/p>\n<p><strong>Matan<\/strong> adalah : Suatu yang akan menyampaikan kepada sanad dari ucapan atau disebut juga redaksi hadist atau isi hadist<\/p>\n<p><strong>Al-Musnad<\/strong> : secara bahasa berarti yang disandarkan kepadanya. Sedangkan Al-Musnad menurut istilah ilmu hadits mempunyai beberapa arti :<\/p>\n<ul>\n<li>Setiap buku yang berisi kumpulan riwayat setiap shahabat secara tersendiri.<\/li>\n<li>Hadits yang sanadnya bersambung dari awal sampai akhir.<\/li>\n<li>Yang dimaksud dengan Al-Musnad adalah sanad, maka dengan makna ini menjadi mashdar yang diawali dengan huruf mim (mashdar miimi).<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Al-Musnid<\/strong> : orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik dia mempunyai pengetahuan terhadap hadits atau hanya sekedar meriwayatkan saja.<\/p>\n<p><strong>Al-Muhaddits<\/strong> adalah orang yang berkecimpung dengan ilmu hadits baik secara periwayatan maupun dirayah, menelaah berbagai riwayat serta keadaan para perawinya.<\/p>\n<p><strong>Al-Hafidh<\/strong> Menurut kebanyakan ahli hadits sepadan dengan Al-Muhaddits. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa Al-Hafidh derajatnya lebih tinggi dari Al-Muhaddits karena yang dia ketahui pada setiap thabaqah (tingkatan\/kedudukan) lebih banyak daripada yang tidak dia ketahui.<\/p>\n<p><strong>Al Hujjah<\/strong> : Orang yang hapal tiga ratus ribu hadist beserta sanadnya.<\/p>\n<p><strong>Al-Hakim<\/strong> menurut sebagian ulama adalah orang yang menguasai semua hadits kecuali sebagian kecil yang tidak dia ketahui.<\/p>\n<p><strong>Ashhab As-Sunan<\/strong> : Para ulama penyusun kitab-kitab &#8220;Sunan&#8221; yaitu: Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pembagian Hadits Menurut Jalan Periwayatannya yang sampai kepada kita<\/strong><br \/>\n<strong>Pertama: Hadits Mutawatir<\/strong><br \/>\nAl Mutawatir ialah:<br \/>\n<em><br \/>\nHadits yang diriwayatkan oleh sekumpulan orang yang mustahil mereka sepakat berdusta menurut adat dan mereka menyandarkannya kepada sesuatu yang nyata.<\/em><\/p>\n<p>Pembagian<br \/>\nAl Mutawatir terbagi dua:<br \/>\n1. Mutawatir lafadz dan makna.<br \/>\n2. Mutawatir makna<br \/>\n<em><br \/>\nMutawatir lafadz dan makna<\/em> ialah hadits yang diriwayatkan oleh para rawi yang sama, baik lafadz atau maknanya.<\/p>\n<p>Mutawatir makna ialah hadits yang telah diriwayatkan oleh para perawi yang sama secara makna saja dan tiap-tiap hadits mempunyai makna khusus.<\/p>\n<p><strong>Faidah <\/strong><br \/>\nFaidah hadits mutawatir terbagi dua yaitu:<\/p>\n<p>1. Ilmu artinya sudah dipastikan benar penasabannya kepada orang yang menukil darinya.<br \/>\n2. \u2018Amal artinya mengamalkan dari apa-apa yang terdapat didalamnya dengan membenarkan apabila ia berbentuk khabar (berita) dan merealisasikan apabila ia berbentuk tuntunan.<\/p>\n<p><strong>Kedua: Hadits Ahad<\/strong><br \/>\n<em>Hadits Ahad ialah lawan dari hadits mutawatir. Yaitu hadits yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir. <\/em><\/p>\n<p>Hadits Ahad terbagi 3 menurut jalan periwayatannya:<br \/>\n1. Hadits Masyhur : Hadits yang memiliki jalan-jalan periwayatan yang terbatas, lebih dari dua jalan, dan tidak mencapai derajat mutawatir.<br \/>\n2. Hadits Aziz : hadits yang diriwayatkan hanya oleh dua orang perawi saja.<br \/>\n3. Hadits Gharib : Hadits yang diriwayatkan sendirian oleh se-orang rawi dalam salah satu periode rangkaian sanadnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pembagian khabar ditinjau kepada orang yang disandarkan<\/strong><br \/>\nKhabar (hadits)terbagi 3 bila ditinjau kepada orang yang disandarkan :<\/p>\n<p><strong>Marfu<\/strong> ialah: <em>Hadits yang disandarkan kepada nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam, terbagi menjadi 2: Marfu sharih dan Marfu hukum<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Marfu sharih<\/strong> ialah: <em>Hadits yang disandarkan kepada nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam secara langsung baik perkataan atau perbuatan atau taqrir atau sifat atau khuluqnya penciptaannya (akhlaknya).<\/em><\/p>\n<p>Contoh perkataan sabda Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam:<br \/>\n<em>\u201cBarangsiapa yang berbuat amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami maka ia tertolak\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Contoh perbuatan Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam:<br \/>\n<em>\u201cRasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam biasa apabila masuk rumahnya ia mulai dengan bersiwak (gosok gigi)\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Contoh penetapan (taqrir) Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam:<br \/>\n<em>Taqrir beliau terhadap jawaban seorang budak perempuan ketika beliau bertanya dimana Allah? dia menjawab: Di langit. Lalu Rasulallah mentaqrirkan terhadap yang demikian. Dan yang termasuk ini juga seluruh perkataan atau perbuatan sahabat yang Rasulallah ketahui tapi beliau shallallahu \u2018alaihi wa sallam diam terhadapnya (tidak mengingkari) maka hukumnya marfu sharih dan termasuk taqrir.<\/em><\/p>\n<p>Contoh sifat akhlaknya.<br \/>\n<em>Adalah nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam orang yang paling dermawan diantara manusia dan yang paling berani diantara manusia. Apa-apa yang beliau diminta beliau tidak pernah katakan jangan\/tidak boleh dan beliau selalu berseri-seri, lembut perawakannya luwes dalam perkara jika ada dua pilihan melainkan beliau memiliki yang paling mudah kecuali kalau dosa maka beliaulah orang yang paling menjauhinya dibandingyang lain.<br \/>\n<\/em><br \/>\nContoh sifat dirinya:<br \/>\n<em>Bahwasanya Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam adalah orang yang tidak tinggi dan tidak pendek (sedang) rambutnya sepundak, lebat menutupi dua telinganya, janggutnya rapih dan sedikit beruban.<\/em><\/p>\n<p><strong>Marfu hukum<\/strong> ialah: Sesuatu yang dihukumi marfu kepada nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<br \/>\nDiantaranya adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Perkataan shahabat apabila tidak bersumber dari pendapatnya (ra\u2019yu) dan bukan tafsiran dan tidak dikenal sebagai orang yang mengambil cerita isra\u2019iliyat.<br \/>\nContoh : Perkatan shahabat seperti khabar tentang tanda-tanda kiamat atau keadaan hari kiamat atau hari pembalasan(ini namanya marfu\u2019 hukum).<br \/>\nJika bersumber dari pendapatnya (ra\u2019yu) maka dinamakan mauquf. Dan jika berbentuk tafsir maka hukumnya sama dan tafsirnya dinamakan tafsir mauquf. Dan jika orangnya terkenal dengan seorang yang mengambil cerita isra\u2019iliyat maka hukumnya tarraddud (saling bertolak belakang) antara khabar isra\u2019iliyat atau hadits marfu\u2019, maka tidak boleh diyakini sebagai hadits karena masih diragukan. Seperti Abadalah (orang yang namanya berawalan Abdul) seperti Abdullah bin Umar bin Khattab dan Abdullah bin Amru bin Al Ash, mereka adalah orang yang mengambil cerita-cerita isra\u2019iliyat dari Ka\u2019ab dan lainnya.<\/li>\n<li>Perbuatan shahabat apabila tidak bersumber dari pendapatnya, seperti shalat khusuf yang dilakukan Ali dengan ruku\u2019 melebihi dari dua dalam satu raka\u2019at.<\/li>\n<li>Sahabat menyandarkan sesuatu kepada masa Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan tidak disebutkan bahwasanya ia tahu hal itu seperti perkataan Asma\u2019 binti Abu Bakar:<\/li>\n<\/ol>\n<p>\u201cKami pernah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam di Madinah lalu kami memakannya\u201d.<\/p>\n<ol>\n<li>Shahabat berkata tentang sesuatu bahwasanya itu termasuk Sunnah seperti perkataan Ibnu mas\u2019ud<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>\u201cTermasuk sunnah tasyahhud dipelankan, maksudnya dalam shalat\u201d .<\/em><\/p>\n<p>Jika tabi\u2019in yang berkata maka bisa marfu\u2019 bisa mauquf, seperti perkataan Ubaidillah bin Abdullah bin Atabah bin Mas\u2019ud.<\/p>\n<p><em>\u201cYang sunnah,Imam berkhutbah pada hari \u2018Iedul Fithri dan \u2018Iedul Adha dua kali yang ia selingi dengan duduk\u201d.<\/em><\/p>\n<ol>\n<li>Perkataan shahabat,<br \/>\nseperti:<br \/>\n\u201ckami diperitahkan atau kami dilarang atau manusia diperintahkan atau yang semisalnya\u201d<br \/>\nseperti perkataan Ummu \u2018Athiyah:<br \/>\n\u201cKami diperintahkan agar kami mengajak keluar para perawan pada waktu shalat iedul fitri dan iedul adha\u201d.<br \/>\nDan perkataannya:<br \/>\nKami dilarang (para wanita) mengiringi jenazah tetapi tidak dikeraskan larangannya terhadap kami.<br \/>\nDan perkataan Ibnu Abbas:<br \/>\nManusia diperintahkan agar mengakhiri waktu haji mereka di ka\u2019bah.<br \/>\nDan perkatan Anas:<br \/>\nKami diberikan batas waktu mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan bulu kemaluan tidak lebih dari 40 malam.<\/li>\n<li>Shahabat menghukumi terhadap sesuatu bahwasanya itu maksiat seperti perkataan Abu Hurairah tentang orang yang keluar masjid setelah adzan:<br \/>\n\u201cAdapun orang ini telah mendurhaki Abul Qosim ( Muhammad shallallahu \u2018alaihi wa sallam)\u201d.<br \/>\nBegitu pula kalau shahabat menghukumi terhadap sesuatu bahwasanya itu termasuk ketaatan atau mengatakan sesuatu itu bukan maksiat atau ketaatan karena yang demikian tidak mungkin dikatakan shahabat melainkan mereka mengetahui nashnya dari nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/li>\n<li>Perkataan mereka (shahabat) dari shahabat dengan dimarfukan haditsnya atau riwayatnya seperti perkataan Sa\u2019id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata:<br \/>\n\u201cObat itu ada dalam tiga: Minum madu, jarum bekam dan besi panas (dibakar) dan umatku dilarang dengan besi panas\u201d<br \/>\nDan perkataan Sa\u2019id bin al Musayyab dari Abu Hurairah :<br \/>\n\u201cFitrah itu lima atau lima dari fitrah: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong rambut dan mencukur kumis\u201d.<br \/>\nDan begitu pula perkataan mereka dari shahabat dengan cara penyampaian hadits atau menerima hadits atau menyandarkan kepadanya dan yang sepertinya karena semua ibarat ini termasuk hukum marfu\u2019 sharih walaupun tidak secara langsung dalam penyandaran kepada nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam tetapi ada dugaan itu dari nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Mauquf<\/strong> ialah : Hadits yang disandarkan kepada shahabat tetapi tidak ditetapkan baginya hukum marfu\u2019.<br \/>\nSeperti perkatan Umar bin khatthab:<br \/>\n<em><br \/>\nIslam hancur karena tergelincirnya seorang yang alim, jidalnya orang munafik dengan Al-Quran dan hukum para imam-imam yang sesat.<\/em><\/p>\n<p><strong>Maqthu\u2019<\/strong> ialah: Perkataan yang disandarkan kepada tabi\u2019in dan orang yang setelahnya (tabiut tabiin).<br \/>\nSeperti perkataan Ibnu Sirin:<br \/>\n<em><br \/>\nSesungguhnya ilmu ini (sanad) adalah agama, maka lihatlah darimana kamu mengambil dien (sanad) mu ini.<\/em><\/p>\n<p>Dan perkataan Malik:<br \/>\n<em>Tinggalkanlah amalan-amalan yang tidak nampak selama tidak baik untukmu agar engkau kerjakan secara nampak.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daftar Isi Beberapa definisi dalam ilmu mushthalah hadits Pembagian Hadits Menurut Jalan Periwayatannya yang sampai<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-20","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kajian-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20\/revisions\/23"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/laik.umri.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}